Selamat Datang di Laman AGPG (Asosiasi Guru Penulis Grobogan) Asosiasi Guru Penulis Grobogan, merupakan perkumpulan guru yang berkomitmen untuk mengembangkan kompetensi bidang penulisan buku dan penyediaan bahan ajar bagi siswa

KUINGIN DIRAYU

 


Ku Ingin Dirayu

By. Isna Aina Hidayanti

    Alya memandang sepasang muda-mudi yang duduk di sudut café. Mereka bercanda dengan mesra. Yang perempuan menyandarkan kepalanya di bahu sang lelaki. Sungguh pemandangan yang bikin hati Alya menjadi baper.
    Perempuan permata sendu itu pun menyenggol lengan Adi yang sedang asyik dengan gawainya.
“Mas,” panggilnya.
“Hemm,” jawabnya singkat tanpa melihat ke arah Alya.
    Alya mencebik.
“Mas, kalau diajak ngomong mbok ya lihat yang ngajak ngomong, emang Mas Adi gak bisa sebentar saja lihat aku,” ujar Alya sambil mengerucutkan bibirnya.
“Iya … iya, ada apa?” Lelaki dengan mata elang itu menarik nafas panjang, kemudian meletakkan gawainya di atas meja.
“Tuh lihat!” tunjuk Alya ke arah pasangan muda-mudi di depan mereka. Adi hanya tersenyum setelah melihat mereka.
“Terus kenapa, Dik? Kamu mau seperti mereka?” goda Adi sambil menatap perempuan di depannya.
“Ya. Yang cowok romantis banget, sedang Mas Adi, cuek banget. Alya kan pingin juga seperti itu.”
“Oh, begitu. Ayo pulang!”
“Lho kok malah pulang, Mas Adi gak asyik.” Alya bangkit, dia ngambek. ‘Dasar laki-laki tak peka,’ gumam Alya dalam hati.
    Mau tak mau, Adi pun bangkit mengikuti Alya yang telah meninggalkannya.
***
    Alya gemas dengan suaminya. Selama ini, hubungan mereka hambar, tak pernah ada ucapan manis yang keluar dari bibir sang suami. Pujian juga jarang dia dapatkan. Dia sebagai wanita, ingin pula merasakan dirayu dan diperhatikan. Namun, selama ini, Adi terlalu cuek padanya. Apa pun yang dilakukan oleh Alya tak pernah dilarang. Saat dia pergi bersama teman-temannya pun, dia tak pernah diteleponnya. Benar-benar dia dibebaskan oleh Adi untuk melakukan apa pun.
    Sari, Dian, Andriani, dan Susi adalah kawan dekatnya Alya. Mereka merencanakan pergi ke Gedongsongo saat liburan akhir pekan.
“Teman-teman, aku tak janji ya. Boleh apa tidak sama mas Banu. Jadi aku kasih info nanti setelah dapat ijin,” jawab Sari.
“Iya, pokonya setelah dapat ijin dari suami masing-masing, kita segera kasih info di group WA, ya!” usul Susi yang mempunyai ide untuk main bareng.
“Oke, siap.”
***
    Liburan pun tiba, teman-teman Alya mengadakan wisata ke Gedong Songo. Seharian mereka bersuka ria. Alya tak sekali pun mendapatkan telepon dari Adi. Padahal suami-suami temannya hampir tiap satu jam sekali mereka menghubunginya.
“Ya. Kenapa kau tampak murung?” tanya Sari.
“Aku iri sama kalian.”
“Iri apa, Ya. Harusnya kamilah yang iri sama dirimu. Mas Adi sangat perhatian kepadamu, dia tak pernah curiga sama kamu. Membebaskan dirimu mau ngapain saja.”
“Kalau aku malah iri sama kalian. Suami kalian perhatian banget, baru ditinggal pergi sebentar, dah telepon, tanya bagaimana kabar kalian. Sedang apa, sudah makan belum, jalan di mana, lagi ngapain. Lah, kalau aku boro-boro di telepon, di WA saja enggak. Aku kan juga ingin di perhatikan seperti kalian.” Alya berkaca-kaca matanya.
“Alya, harusnya kamu bersyukur dong punya Adi. Dia gak pernah neko-neko, kan. Dia itu percaya banget padamu.”
“Ah, kamu tak tahu apa yang aku rasakan. Aku ingin Adi seperti Reno, Banu, dan Tegar. Dia kan romantis.”
“Jika kamu tahu apa yang sebenarnya kau rasakan, kamu tak akan iri sama aku, Ya. Aku terkekang. Aku malahan ingin sepertimu. Bisa bebas ke mana kau pergi. Sedangkan aku, Reno itu selalu melarang aku begini, melarang aku begitu. Ku akui dia itu romantis, tapi dia terlalu protektif padaku,” terang Dian.
“Sudah … sudah. Kita syukuri saja. Pasti pasangan kita punya kelebihan dan kekurangan. Tak bisa sempurna seperti apa yang kita inginkan semua,” ujar Andriani bijak.
“Ya, aku tahu Dri. Tapi aku ingin mas Adi seperti cowok lainnya, romantis. Aku pun ingin dirayu juga. Wanita mana yang tak ingin dirayu coba?” Alya masih ngotot dengan pendiriannya.
    Tanpa sepengetahuan Alya, Andriani yang merupakan teman sekolahnya Adi menulis pesan ke Adi. Dia menceritakan keinginan Alya.
    Obrolan mereka pun kian seru, biasalah perempuan kalau sedang berkumpul, pastilah ngomongin tentang pakaian dan gosib selebriti.
    Terdengar suara HP berdering. Mereka saling pandang.
“Ya, itu kayaknya HP-mu deh yang berdering?” ujar Andriani sambil tersenyum.
“Masak sih, siapa yang telepon?” Alya membuka tasnya. Matanya membulat saat melihat gambar Adi terpampang jelas di layar HP-nya.
“Siapa?” tanya Andriani pura-pura terkejut.
“Adi.”
“Sudah, angkat saja. Biar kami mendengarnya. Katamu tadi dia tak pernah telepon kamu, Ya. Buktinya dia telepon tuh.” Sari ikut berkomentar.
[Assalamualaikum, ada apa ya Mas?]
[Waalaikumsalam, gak ada apa-apa, Dik. Mas hanya kangen saja sama kamu.]
Terdengar suitan dari keempat kawan Alya. Pipi Alya pun merona.
[Kamu kapan balik?]
[Bentar lagi, Mas.]
[Pemandangannya cantik ya Dik, secantik dirimu.]
    Kembali terdengar kata cie … cie terlontar dari kawan-kawan Alya dan disertai suara tawa.
[Jangan lupa ya, titip salam buat istriku yang cantik, jangan telat makan. Mas menunggu kepulanganmu.]
[ya, Mas.]
“Ya, tuh buktinya Adi romantis gitu. Katamu dia dingin, cuek, dan tak peduli. Kamu bohong kali?”
Alya menggeleng.
“Beneran, aku juga heran lho. Tumben dia telepon.”
***
    Alya dan teman-temannya tiba di rumah sudah malam. Sesampainya di depan rumah, Alya segera berpamitan pada teman-temannya. Dia lalu melangkah memasuki halaman. Dilihatnya di teras telah berdiri sosok yang sangat dikenalnya, Adi.
“Mas, Adi?”
Adi bangkit dan menyambut Alya dengan senyuman.
“Kamu capek, Dik?”
Alya menggeleng.
“Kalau gak capek. Duduk sini sebentar, ya. Mumpung bulan purnama masih terlihat di atas sana.”
Mereka berdua duduk di teras. Angin malam membelai wajah Alya.
“Dik. Mungkin selama Mas menjadi suamimu, banyak kekurangannya. Mas minta maaf, ya.”
“Maksud, Mas Adi apa?” Hati Alya menjadi berdebar-debar. Meski mereka bukan pasangan yang baru saja kenal, tapi sikap Adi menurut Alya ada yang aneh.
“Mas tahu, Dik. Selama ini Mas bukan suami yang sempurna. Mas bukan suami yang pandai berkata-kata. Tidak bisa romatis atau pun merayumu dengan kata-kata manis. Tapi ketahuilah, Dik. Mas sangat menyayangimu, mencintaimu, dan kaulah ratu di hati Mas, untuk kemarin, saat ini atau pun lusa. Mas selama ini mengapa tidak menelepon dirimu saat kau bersama teman-temanmu, karena mas percaya dengan dirimu. Kau bisa menjaga kehormatanmu dan juga kehormatan Mas. Bukan berarti mas mengabaikan dirimu. Percayalah, Dik. Mas sangat menyayangimu.”
    Alya bagaikan tertampar mendengar semua penuturan suaminya. Dia pun langsung menghambur kepelukan Adi. Netranya berkaca-kaca, dia selama ini telah salah paham pada suaminya.
“Maafkan Alya, Mas. Selama ini Alya hanya ingin di rayu seperti kisah dalam sinetron-sinetron itu, Mas.”
“Dik, maafkan Mas, ya. Mas tak bisa merangkai kata-kata untuk merayu Adik. Kalau kamu ingin dirayu, tolong bantu Mas biar tak hafalin, ya!”
Cubitan mesra pun mendarat di pinggang Adi. Mereka pun saling berpelukan.




****

Silakan berkomentar dengan sopan

0 Komentar