Selamat Datang di Laman AGPG (Asosiasi Guru Penulis Grobogan) Asosiasi Guru Penulis Grobogan, merupakan perkumpulan guru yang berkomitmen untuk mengembangkan kompetensi bidang penulisan buku dan penyediaan bahan ajar bagi siswa

Memeluk Amerta dengan Menulis

 


Tyas Pitaloka

SDN 3 Tegowanu wetan

Pernahkah kamu jatuh? Dibuat Kecewa? Patah? Gundah gulana? Stress?  Bahkan sampai dendam dengan seseorang. Rasanya seperti tak ingin mengenal siapapun, tak ingin membuka hati untuk siapapun dan bahkan ingin menutup cerita apapun dan dengan siapapun. Kesulitan memilih telinga mana yang sanggup disinggahi dengan cerita. Dibendung sendirian sakit, dilupakan sulit. Padahal telinga itu hanya bertugas mendengarkan saja, tanpa memberikan solusipun tak masalah. 

            Masing-masing manusia memiliki cara tersendiri untuk sekadar menyembuhkan luka. Ada yang bisa menceritakan masalahnya dengan orang terdekatnya, adapula yang kesulitan bercerita kepada orang lain. Berbagai macam cara untuk meluapkan dan melupakan ihwal yang dapat membuat kita patah ataupun jatuh, misalnya: bekerja dengan ritme yang lebih gila dibanding sebelumnya, bermain game, self thalking atau berbicara dengan diri sendiri saat berkendara, berbelanja, menonton film, berlibur, jalan-jalan, kulineran, berkebun, olahraga, camping, hiking, melukis, menulis atau dengan cara lainnya yang bisa membuat nyaman dan membuat seluruh beban pikiran kita lenyap.

            Kita tak bisa menyalahkan ataupun menertawakan cara yang ditempuh orang-orang untuk menerapi dirinya sendiri. Bahkan bagi mereka yang tidak bisa mengatasi diri sendiri bisa saja lari ke psikiater agar luka dibatinnya bisa sembuh secara perlahan. Ihwal demikian lumrah terjadi. Lebih baik kita isi dengan kegiatan yang positif daripada kita lari ke hal yang menjeremuskan atau bahkan ke arah kejahatan yang dapat membahayakan diri sendiri ataupun orang lain.

            Saya pernah mengalami patah yang disebabkan  laki-laki yang pintar memintal aksara, mengubah cerita menjadi suatu harapan di masa yang akan datang. Saya kira ia penawar luka dari sebelumnya. Justru ia penyadur ulung yang pintar merakit sebuah dongeng nan apik. Apa yang ia utarakan seolah-olah menjadi nyata. Nyatanya saya dibuat sehancur-hancurnya. Masa depan yang ia tawarkan hanya sebuah gurauan semata. Ucapan bukan lagi sebuah doa, namun hanya dongeng untuk telinga yang kurang jeli saja.

            Apakah patah membuat saya terus menerus menggenggam luka? Tentu tidak, saya menemukan sesuatu yang bisa membuat saya tenang. Ya, dengan menulis saya bisa melampiaskan segalanya. Amarah, luka, kecewa bahkan ketika ditinggal menikah seseorang yang benar-benar saya percaya tawaran manisnya bisa saya lampiaskan sekaligus. Bagi sebagaian orang. Menulis dikala sakit, patah ataupun dalam keadaan mood yang benar-benar

hancur rasanya akan mengalami kesulitan menemukan ide untuk ditulis. Bagi saya justru sebaliknyan, saya menemukan jatidiri dalam tulisan. Saya menemukan kebahagiaan dalam tulisan saya.  Perlahan saya bisa melupakan apa yang saya alami. Saya bekerja bukan dibidang yang dapat menjual tulisan. Jauh dari kata sempurna dalam ejaan. Namun, dengan menulis saya  mendapatkan apa yang tidak saya dapatkan ketika saya berbagi dengan orang lain. Menjadi blogger, atau mengikuti event lomba menulis yang berseliweran di media sosial  dapat mengurangi stress dalam diri saya.

            Menurut seorang pioneer, James W. Pennebaker, yang dikutip dari kompas.com mengatakan bahwa, orang-orang yang menulis tentang peristiwa-peristiwa yang berarti atau traumatis dapat meningkatkan kesehatan, fungsi organ, kekebalan tubuh, aktivitas hormonal, memperbaiki penyakit, dan meredakan stres mereka. Selain itu menurut Karen Baikie seorang clinical psychologist dari University Of New South Wales yang dikutip dari pelitaku.sabda.org mengungkapkan bahwa, dengan menuliskan peristiwa-peristiwa traumatis, penuh tekanan serta peristiwa yang penuh emosi bisa memperbaiki kesehatan fisik dan mental.  Dengan kata lain, dari kedua pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa menulis dapat mengurangi pikiran negatif, mengurangi kadar stress serta dapat mengembalikan fisik dan mental kita yang hancur sebelumnya. Selain itu dapat menyelesaikan masalah yang sulit diungkapkan dengan perkataan. Jika jiwa kita tenang, imun kita naik niscaya dapat menangkal penyakit dalam diri kita. 

            Tak dapat dipungkiri walaupun menulis dapat dijadikan sebuah terapi. Namun, kenyataannya memulai menulis itu sulit. Padahal menulis itu tak butuh orang pintar. Dimana ada kemauan dan mood yang baik niscaya kita tidak akan kehilangan alur cerita yang akan kita tulis. Memulai menulis bisa diawali dengan menulis di buku diari. Menulis kisah yang kita alami sehari-hari. Dimulai dengan hal yang menurut kita menarik yang kita alami. bisa jadi kejadian yang aneh, lucu, membahagiakan ataupun cerita yang menyedihkan. Jika kita termasuk golongan pelupa, bisa menuliskan dengan hal-hal yang kecil yang dapat diingat. Namun, mood yang kita miliki juga harus dalam keadaan baik. Percuma saja kita memiliki cerita apik yang akan ditulis, tetapi dalam keadaan mood yang berantakan justru dapat menghancurkan alur ceritanya.

            Dengan adanya Gerakan Gema Rusa Menuku (Gerakan Bersama Guru Bisa Menulis Buku) yang di naungi oleh Dinas pendidikan menjadikan tonggak pertama untuk membangkitkan gairah menulis. Menulis itu memiliki aturan, banyak hal yang perlu di perhatikan oleh seorang penulis. Pun saya. Membangkitkan gairah menulis itu sangat rumit. Banyak tulisan yang telah saya lahirkan. Namun, saya kesulitan untuk melahirkan 1 buku. Alhasil tulisan-tulisan itu macet di kepala. Dengan adanya diklat penulisan ini, asa saya membumbung tinggi agar dapat melahirkan buku yang ciamik.

            "Menulis adalah bekerja untuk keabadian" adalah kutipan dari sastrawan Pramoedya Ananta Toer. Memang benar kata Ananta Toer. Meskipun kita atma Ananta toer telah hirap. Namun kita bisa memeluk atma beliau melalui karya-karya yang telah beliau lahirkan. Pun kita. Kita dapat memeluk amerta melalui tulisan yang telah kita lahirkan.

 

 

Silakan berkomentar dengan sopan

0 Komentar