Nenek Penjual Keliling vs Pemuda Kemoceng
By. Isna Nauli
Mentari bersinar terik siang itu. Cahaya putih menyilaukan menyelimuti alam, sementara angin yang berembus terasa kering, membuat keringat tak tahan berdiam diri di kelenjar. Dengan semangat, kelenjar keringat pun mengekskresikan butiran-butiran bening lewat pori-pori kulit.
Di tengah terik yang menyengat, tampak seorang nenek berjalan dengan "dunak" di punggungnya. Dunak itu terbuat dari batang bambu yang dipilah dan dianyam hingga berbentuk seperti keranjang. Sementara tangannya menjinjing tas yang juga penuh dengan barang dagangannya.
Sesampainya di teras kantorku, ia melepas sandalnya, lalu menuju bangku kosong. Dengan cekatan, ia mengeluarkan "bagor"—sejenis tikar kecil—dan menata dagangan bawaannya dengan rapi. Bakwan, tahu, rolade, gembus, mendoan, kerupuk, nasi kucing, gendar pecel, telo godog, pisang godog, kacang godog, tape, dan pisang selirang tersusun dalam jumlah terbatas, paling banyak sepuluh bungkus plastik per jenisnya. Nenek itu lalu duduk di lantai, menunggui dagangannya dengan sabar. Jika bangku kosong, ia akan menaruh dagangannya di atasnya, sementara dirinya tetap duduk di bawah.
Ia selalu datang saat jam istirahat kedua. Kami, para pegawai kantor, setia menunggunya untuk sekadar mengganjal perut atau kadang hanya karena rasa iba jika dagangannya belum laku. Wajah lugunya menimbulkan simpati siapa pun yang melihatnya. Tubuh rentanya masih kuat melangkah dari pintu ke pintu, tanpa keluh kesah di bawah sengatan matahari. Ia berpacu dengan waktu, berharap dagangannya habis sebelum matahari terbenam.
Setelah dari kantorku, ia masih melanjutkan perjalanan, menjajakan dagangannya hingga ludes. Kadang baru habis pukul tiga, bahkan empat sore. Menyusuri jalan tanpa perlindungan, menantang matahari yang semakin garang.
Sering kali aku iseng menghitung keuntungannya. Tak seberapa memang. Ia mengambil barang dari pasar dengan margin keuntungan hanya seratus rupiah hingga paling banyak lima ratus supiah per item. Misalnya, sekantong plastik bakwan isi sepuluh, ia hanya memperoleh seribu rupiah. Jika ia membawa dua puluh jenis dagangan dan laku semua, total keuntungannya hanya dua puluh ribu rupiah. Itu pun dengan berjalan kaki sejauh langkah kakinya mampu.
Pemandangan berbeda kutemui di lampu merah, tempat seorang pemuda dengan penampilan urakan berdiri. Topi bertengger di kepalanya, sepatu lusuh melekat di kakinya, sementara tangannya penuh tato beraneka gambar. Di tangannya tergenggam sebuah kemoceng.
Dengan antusias, ia bergegas menuju mobil-mobil yang berhenti saat lampu merah menyala. Dengan kemoceng kotornya, ia mengelap bodi mobil yang masih mengilap. Pengemudi, tak ingin mobilnya tersentuh lebih lama, buru-buru membuka jendela dan menyodorkan uang receh seribuan. Pemuda itu tersenyum, berlalu ke mobil berikutnya, dan terus mengulanginya hingga lampu berganti hijau.
Ironis, bukan?
Mari kita hitung. Jika dalam sehari ia bisa mengelap lima puluh mobil, maka ia mendapatkan lima puluh ribu rupiah—dua kali lipat dari penghasilan si nenek. Tanpa berjalan jauh, tanpa membawa beban berat di punggung, dan tanpa harus menantang matahari seharian.
Siapa yang mampu mengubah kondisi seperti ini?
Hanya waktu yang bisa menjawabnya.
Silakan berkomentar dengan sopan
0 Komentar