Pelikku Untuk Pelikmu
By. Isna Aina Hidayanti
Alya menelan ludahnya saat melihatku menyuapkan sesendok nasi padang yang aromanya menggelitik hidung. Sesekali dia melirikku, lalu terlihat dadanya turun naik. Malam ini, aku sengaja mengajaknya ke luar, untuk menikmati malam minggu yang sudah lama tak kami nikmati. Banyak alasan yang dia buat, saat aku ajak dia pergi berdua.
“Kenapa kau tak mau makan?”“Gak, Mas. Sudah malam, aku dah makan sebelum jam lima tadi.”
Meskipun aku tahu, dia sangat tertarik dengan menu yang aku makan malam ini. Aku kasihan melihatnya menahan air liurnya.
***
Malam ini sepulang bekerja, kulihat wajahnya kelihatan lesu. Tak seperti biasanya menyambutku dengan senyum dengan mata yang ceria. Sebagai suami, aku pun tergelitik ingin tahu atas perubahan sikapnya.
“Kau kenapa, Dik? Suntuk banget kelihatannya. Ada masalah?” tanyaku sambil menghempaskan tubuh ke atas sofa ruang tamu.
Dia duduk di sampingku dengan mata yang berkaca-kaca. Aku rengkuh tubuhnya yang wangi itu.
“Gak apa-apa, Mas.”Dia melepaskan pelukanku. “Mas mandi dulu, sudah aku siapkan air panas dan setelah itu aku temani makan, ya!”
Dia meninggalkanku. Aku tahu hatinya sedang tidak baik. Dalam benakku dipenuhi beragam pertanyaan. ‘Apa yang sebenarnya Alya pikirkan, di mana senyumnya malam ini?’
Air hangat membasahi tubuhku. Kesegaran pun menjalari seluruh tubuhku. Aku keluar kamar mandi, kulihat Alya telah duduk di sebelah ayunan tempat tidur jagoan kami. Satria.
Setelah melihatku, dia bangkit dan menghampiriku. Aku kecup keningnya lembut. Kami pun beriringan menuju meja makan. Dengan cekatan dia menuangkan nasi ke atas piring lengkap dengan sayur dan lauknya.
Aku menerimanya dengan tersenyum. Namun, kulihat netra itu tampak tertutup mendung.
“Kau tak makan, Dik?” tanyaku.
Dia menggeleng. “Tidak, Mas. Aku sudah makan,” jawabnya sambil menungguiku.
Aku pun makan dalam diam. Dia biasanya selalu bercerita di sela-sela makan malam kami. Tentang keseruan jagoan kami yang sedang belajar berjalan. Tentang rumah yang seperti kapal pecah. Tentang dirinya yang sering merasa lapar. Namun, malam ini terasa sepi.
Usai makan, aku mengajak dirinya ke teras. Rembulan mengintip kami dari balik dedaunan. Angin malam membelai wajahnya yang ayu. Sungguh beruntungnya aku memiliki dirinya. Seorang gadis yang rela melepaskan segalanya untuk menemani hari-hariku di kota ini. Sebuah kota yang jauh dari bisingnya metropolitan.
Aku genggam jemarinya lembut, dia menatapku seolah ingin mengatakan sesuatu padaku. Kubiarkan hatinya tenang. Lalu aku rebahkan kepalanya di pangkuanku.
“Ceritakan apa yang ingin kau ceritakan!”
Dia hanya menggeleng, tepi tangannya meremas jemariku. Ku kecup lembut keningnya saat dia memejamkan mata.
“Mas ….” Dia memanggilku lirih.“Ya. Ada apa, Dik?”“Apakah Mas Ilham masih sayang padaku?”
Keningku mengernyit, dalam hati aku merasa heran dengan pertanyaannya. Ada apa ini, tiba-tiba dia menanyakan hal ini padaku?
Aku pun mengangguk. “Aku tetap sayang padamu, Dik. Sayang sampai mati.” Aku menjawab seperti lirik sebuah lagu. Dia bangkit dari pangkuanku, menatapku tajam seolah masuk dalam lorong irisku.
“Beneran, gak berubah sedikit pun, apa pun yang terjadi?” tanyanya menelisik.“Really. I always love you forever, Dik. Masih ragukan kau dengan suamimu ini. Coba kau dengarkan detak jantungku, di sana akan kau dengankan senandung lagu cinta mengalun merdu, hingga mengalir disetiap pembuluh darahku.”
Dia memeluk sambil mencubit pinggangku. Aku pun pura-pura berteriak kesakitan. Akhirnya senyumnya pun kembali.
‘Ah, wanita memang perlu digombalin, biar bisa tersenyum.’
***
Malam berikutnya setelah anak kami tertidur, kami pun menikmati kebersamaan setelah lelah seharian di luar.
Dia menyandarkan kepalanya di dadaku. Kucium aroma wangi dari rambutnya.
“Kau tambah-….” Belum sempat aku meneruskan omonganku, Alya memotongnya.“Apa, tambah gendut, ya? Tambah tembem, ya. Tambah jelek, ya.”Aku tertawa mendengar omongannya.“Kenapa Mas tertawa, betul kan itu yang akan Mas ucapkan?” Mulutnya cemberut.“Siapa juga yang mau bilang seperti itu, Dik?” jawabku masih dengan tersenyum.“Buktinya, itu … Mas malah senyum-senyum.”“Mas hanya mau bilang, kau tambah cantik.”“Gombal.”“Really. Kamu tambah cantik meskipun-….”“Meskipun apa, GENDUT. Itu kan.”“Ya Allah, Dik. Makanya kalau mas mau ngomong jangan dipotong melulu kenapa. Biarkan Mas sampai selesai dulu ngomongnya, baru Adik jawab. Ini, baru mau ngomong dah Adik serobot.”“Terus, Mas mau ngomong apaan, pasti sama dengan omongan ibu-ibu tetangga kita, kan.”
Oh, jadi yang membuat istriku uring-uringan akhir-akhir ini adalah omongan tetangga. Aku jadi penasaran dengan apa yang sebenarnya mereka omongkan tentang istriku.
“Emang mereka ngomong apaan sih tentang istri Mas?”
Akhirnya mengalirlah cerita dari bibirnya. Aku hanya mengangguk-angguk. Memang tak semua yang dikatakan para tetangga itu salah, apalagi mereka tahu dari awal perubahan istriku. Dulu, lima tahun yang lalu, memang Alya bertubuh langsing, malah bisa dikatakan kurus. Sekarang sudah kelihatan berbobot setelah melahirkan jagoan kami. Jagoan yang lima tahun baru hadir di tengah-tengah kami. Jagoan yang menjawab segala cemoohan dari orang luar tentang mereka.
Aku hanya tersenyum, tak ayal cubitan mendarat lagi di pinggangku. Aku pun menjerit. Kurengkuh kepalanya dalam pelukanku.
“Sudah ceritanya?” tanyaku.
Dia mengangguk. Namun, bibirnya masih manyun.
“Alya, istri Mas. Bagiku kau tetap yang terbaik, tetap yang tercantik yang akan menjadi permaisuri di hati mas, selamanya. Entah beratmu turun atau naik itu bukanlah masalah buat Mas. Kita hanyalah manusia, wajar jika tak sempurna. Sudah jangan dengarkan kata mereka. Cukup saat kau merasa gundah, lihat hatimu, percayalah segala sesuatu yang pelik
bisa diringankan dengan peluk.” Kueratkan pelukanku. Dia semakin membenamkan kepalanya di dadaku.
“Dik. Biarkan dunia tak ramah buat kita, yang penting Mas selalu cinta dan sayang padamu. Apapaun dan bagaimana pun keadaanmu. Tak akan mengurangi rasa cinta mas untukmu. Biarlah kau tetap seperti ini. Kau tak mesti berubah, dengan diet-diet segala. Kasihan anak kita, aku tahu kau banyak makan akhir-akhir ini, karena kau makan untuk anak kikta juga. Iya, kan?”
Alya mengangguk. Dia menatap kembali, jantungku makin bertalu-talu saat tangannya membelai pipiku.
“Jangan takut menatap dirimu yang sekarang seolah menjadi asing dari cermin karena perubahanmu. Bagiku kaulah yang terbaik. Jangan dengar kata-kata mereka, nanti kau akan kecewa. Jangan lagi kau terluka, karena lukamu akan membuatku bersedih.”
Alya sesengukan di atas dadaku. Aku memeluknya erat, mengobati hatinya yang galau karena omongan tetangga tentang melarnya tubuhnya kini.
Aku lalu berbisik lirih di telinganya. “Kapan kau mau memberikan adik buat Satria?”
Dia memukul dadaku, lalu aku tangkap kedua tangannya, aku lingkarkan tangannya di leherku.
***
Silakan berkomentar dengan sopan
0 Komentar