Nama : Magditiara Ayudyaningtyas,S.Pd.
Unit Kerja : SD Negeri 1 Kedungjati
Terlambat dari pada tidak
Setelah menyimak materi langkah-langkah menulis buku terasa begitu mudah. Namun, ketika ingin mulai menulis bingung dan tidak terpikir apa yang akan ditulis. Hati begitu bersemangat ingin ada pencapaian baru, mengembangkan diri, mengasah kemampuan diri.
Termasuk orang yang lebih nyaman bergelut dengan angka dan rumus. Menulis terasa berat dan sulit dipelajari. Pengalaman menulis yang paling berkesan adalah 16th yang lalu. Tugas dari Guru Bahasa Indonesia, beliau memberi tugas untuk menulis cerpen singkat. Tugas dikerjakan dalam waktu hampir 1 bulan berdasarkan pengalaman pribadi. Alhamdulillah mendapat apresiasi positif dari Guru Bahasa Indonesia tesebut. Setelah pengalaman tersebut pengalaman menulis yang berkesan adalah ketika mengerjakan skripsi. Begitu menguras waktu dan pemikiran.
Keadaan saat ini begitu sulit, tidak ada ide untuk menulis. Kepala terasa penuh dengan tagihan pekerjaan. Serasa semua energi sudah terkuras untuk mengajar dan mengerjakan tugas tambahan. Tapi tak apa, akan ku tulis apa saja yang terlintas dipikiranku, tulis dan terus kutulis. Entah ini pantas disebut sebagai tulisan atau hanya sebuah kumpulan kata.
AGPG menyajikan materi dengan begitu sederhana dan jelas. Kami menyimak dengan antusias, durasi zoom dari pagi hingga siang terasa cepat. Sepenuhnya saya paham, namun ide menulis yang begitu sulit muncul. Dipenghujung dateline pengumpulan tugas, saya mulai tulis apa yang yang bisa saya tulis. Dengan harapan tugas segera selesai dan bisa dikumpulkan.
Mengikuti diklat merupakan hal menyenangkan bagi saya. Namun, terkadang terhalang dengan tugas utama dan tambahan yang dibebankan. Seandainya seperti yang saya bayangkan dulu guru dengan tugas utama mengajar, ditambah tugas untuk pengembangan diri, wahh pasti akan sangat menyenangkan. Setiap hari hanya memikirkan apa yang akan diajakan besok dan belajar hal-hal baru yang mampu menunjang kemampuan mengajar dikelas. Bukan dibebani tugas administrasi yang begitu menguras pemikiran, membuat kami para guru lelah dan mau tidak mau mengesampingkan tugas utama kami mencerdaskan anak bangsa.
Meski begitu tetap guru tetap menjadi profesi impian saya sejak kacil, sangat menyenangkan dan nyaman dikelas bersama anak-anak. Terasa "momong" dengan jumlah anak yang lebih banyak. Sedikit curahan hati dan motivasi bagi saya, terimakasih.
Silakan berkomentar dengan sopan
0 Komentar